Meniru Kecerdasan Tuhan
Sabda
Rasulullah SAW,
“Hendaknya anda memiliki sifat seperti sifat Allah Ta’ala”
(al-Ghazali)[1]
“Setiap/semua
anak yang lahir dalam keadaan fitrah, lalu kedua orang tuanya menjadikannya
menganut agama Yahudi, Nasrani atau Majusi. Sebagaimana binatang yang lahir
sempurna, apakah kamu menemukan ada anggota badannya yang terpotong, kecuali
jika kamu yang memotongnya? (Tentu tidak!) (HR.Bukhari, Muslim, Ahmad dan lain-lain
melalui Abu Hurairah)
Asma al-Husna
QOUTIENTS (AHQ) adalah fitrah yakni
dasar keyakinan tentang keesaan Allah swt. Fitrah merupakan potensi dasar
sebagai ciptaan pertama. Tabiat awal yang menjadi dasar manusia untuk hidup. Potensi
memiliki kemampuan mengetahui persoalan-persoalan sebagaimana adanya. Potensi
untuk mengetahui. Fitrah mengandung kesucian dan keluhuran budi pekerti.
Perangai yang lurus serta kemudahn untuk mematuhi petunjuk yang jelas. Fitrah
memiliki kemampuan untuk menerima kebenaran yang mantap. Fitrah juga dipahami
sebagai
“Keadaan atau kondisi penciptaan yang
terdapat dalam diri manusia yang menjadikannya berpotensi melalui fitrah itu,
mampu membedakan ciptaan-ciptaan Allah serta mengenal Tuhan dan syariat-Nya.”
(Thahir Ibn Asyur)[2]
Kemudian Ibn Sina[3]
memberikan ilustrasi, bahwa “Seandainya
seorang manusia lahir ke dunia dalam keadaan sempurna akal, tetapi dia belum
pernah mendengar satu pendapat pun, tidak juga meyakini satu madzhab, tidak
bergaul dengan satu masyarakat atau mengenal siasat - hanya meyaksikan hal-hal
yang bersifat inderawwi - lalu dia mengambil beberapa kondisi dan memaparkannya
ke benaknya lalu berusaha untuk meragukannya, maka bila dia ragu itu berati
fitrah tidak mendukungnya, tetapi bila tidak dapat ragu, maka itulah petunjuk
fitrah. Namun demikian - lanjut Ibnu Sina - tidak semua dituntun oleh fitrah
manusia, benar adanya. Yang benar hanyal yang dihasilkan oleh potensi akliah,
sedang fitrah adalah pemikiran secara umum, bisa saja tidak benar.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar