Kamis, 20 November 2014

Asma al-Husna QOUTIENTS (AHQ)



Meniru Kecerdasan Tuhan





Sabda Rasulullah SAW,
Hendaknya anda memiliki sifat seperti sifat Allah Ta’ala”
(al-Ghazali)[1]

“Setiap/semua anak yang lahir dalam keadaan fitrah, lalu kedua orang tuanya menjadikannya menganut agama Yahudi, Nasrani atau Majusi. Sebagaimana binatang yang lahir sempurna, apakah kamu menemukan ada anggota badannya yang terpotong, kecuali jika kamu yang memotongnya? (Tentu tidak!)  (HR.Bukhari, Muslim, Ahmad dan lain-lain melalui Abu Hurairah)
Asma al-Husna QOUTIENTS  (AHQ)  adalah fitrah yakni dasar keyakinan tentang keesaan Allah swt. Fitrah merupakan potensi dasar sebagai ciptaan pertama. Tabiat awal yang menjadi dasar manusia untuk hidup. Potensi memiliki kemampuan mengetahui persoalan-persoalan sebagaimana adanya. Potensi untuk mengetahui. Fitrah mengandung kesucian dan keluhuran budi pekerti. Perangai yang lurus serta kemudahn untuk mematuhi petunjuk yang jelas. Fitrah memiliki kemampuan untuk menerima kebenaran yang mantap. Fitrah juga dipahami sebagai
Keadaan atau kondisi penciptaan yang terdapat dalam diri manusia yang menjadikannya berpotensi melalui fitrah itu, mampu membedakan ciptaan-ciptaan Allah serta mengenal Tuhan dan syariat-Nya.” (Thahir Ibn Asyur)[2]
          Kemudian Ibn Sina[3] memberikan ilustrasi, bahwa “Seandainya seorang manusia lahir ke dunia dalam keadaan sempurna akal, tetapi dia belum pernah mendengar satu pendapat pun, tidak juga meyakini satu madzhab, tidak bergaul dengan satu masyarakat atau mengenal siasat - hanya meyaksikan hal-hal yang bersifat inderawwi - lalu dia mengambil beberapa kondisi dan memaparkannya ke benaknya lalu berusaha untuk meragukannya, maka bila dia ragu itu berati fitrah tidak mendukungnya, tetapi bila tidak dapat ragu, maka itulah petunjuk fitrah. Namun demikian - lanjut Ibnu Sina - tidak semua dituntun oleh fitrah manusia, benar adanya. Yang benar hanyal yang dihasilkan oleh potensi akliah, sedang fitrah adalah pemikiran secara umum, bisa saja tidak benar.”


[1] Mizan, Bandung,2000 dikutip dari Ary Ginanjar Agustian,2004:300

[2] Shihab,M.Quraish, Tafsir Al-Mishbah: pesan, kesan, dan keserasian Al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati, 2002 vol 11 dari vol 15. hlm 54.
[3] ibid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar